Text
KISAH NABI IBRAHIM DALAM AL-QUR`AN SURAT ASHAFAAT AYAT 102-107 SEBAGIAN METODE PENDIDIKAN DAN INPLEMENTASINYA PADA MATA PEMEBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MTS AL-FALAH SIMPANGSARI
Depih Dian Selasih
NIM: 2101153
Nabi Ibrahim dilahirkan pada masa kekuasaan yang sangat kejam dan tidak mengenal perikemanusiaan yaitu Namruz bin Kan’an Ibn Kusy. Nabi Ibrahim tumbuh dilingkungan masyarakat yang makmur dan tentram. Akan tetapi, mereka hidup dalam kegelapan dan kemusyrikan. Allah telah memberikan jalan kebenaran, bimbingan dan perlindungan kepada nabi Ibrahim sehingga dari semenjak lahir ia telah menjadi seorang yang maksum dari segala maksiat. Beliau memiliki ketajaman berpikir yang hebat sehingga membawanya memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah itu Tuhan yang Esa.
Para ahli sejarah menuturkan, Ibrahim menikah dengan Sarah. Sarah mandul, Tarikh kemudian berimigrasi bersama anaknya, Ibrahim beserta istrinya Sarah, dan keponakannya Luth bin Haran, meninggalkan kawasan Kaldan menuju bumi Kan’an. Mereka singgah di Haran. Di sana, Tarikh meninggal dunia dalam usia 230 tahun10. Setelah singgah beberapa saat di Kaldan, mereka melanjutkan perjalanan menuju negeri Kan’an, yaitu di wilayah Baitul Maqdis. Mereka singgah di Haran, kawasan orang-orang Kaldan pada waktu itu. Mereka juga singgah di jazirah dan Syam. Mereka menyembah tujuh bintang dan orang-orang yang menghuni kota Damaskus juga memeluk agama yang sama. Mereka menghadap ke arah kutub selatan, menyembah tujuh bintang dengan berbagai macam ritual gerakan maupun ucapan. Karena itulah, disetiap tujuh pintu gerbang pintu Damaskus kuno terdapat patung bintang tersebut. Mereka mengadakan hari-hari besar dan kurban untuk bintang-bintang yang mereka sembah.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain