Text
PENERAPAN PEMIKIRAN GUS BAHA DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER SANTRI ( STUDI KASUS DI PONDOK PESANTREN BAITUL HIKMAH KAMPUNG HAURKUNING DESA MANDALAGUNA KECAMATAN SALOPA KABUPATEN TASIKMALAYA )
QORI AZKIA
NIM: 2101215
PENERAPAN PEMIKIRAN GUS BAHA DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER SANTRI (Studi Kasus di Pondok Pesantren Baitul Hikmah Kampung Haurkuning Desa Mandalaguna Kecamatan Salopa Kabupaten Tasikmalaya)
Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Tasikmalaya, 2025.
Pendidikan karakter merupakan pilar utama dalam membentuk generasi berakhlak mulia, terlebih di tengah era modern yang penuh tantangan moral. Pondok pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, memiliki peran strategis dalam pembentukan kepribadian dan karakter para santri. Salah satu tokoh yang pemikirannya berpengaruh dalam pembinaan karakter adalah KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis konsep pemikiran Gus Baha dalam konteks pendidikan karakter santri serta relevansinya terhadap sistem pendidikan di Pondok Pesantren Baitul Hikmah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Baitul Hikmah yang dikenal sebagai salah satu pesantren terbesar di Tasikmalaya dan berafiliasi dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti keikhlasan, kesederhanaan, cinta ilmu, toleransi, kemandirian, serta kepedulian sosial menjadi inti dari pemikiran Gus Baha yang selaras dengan visi pendidikan karakter santri. Nilai-nilai tersebut bukan hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga diterapkan dalam praktik kehidupan keseharian santri, seperti dalam sistem pembelajaran kitab kuning, pembinaan adab, dan aktivitas sosial.
Adapun keadaan santri di Pondok Pesantren Baitul Hikmah menunjukkan semangat keilmuan yang tinggi, disiplin dalam ibadah, serta kuat dalam nilai-nilai tradisi pesantren. Dengan jumlah santri yang mencapai lebih dari 3000 orang, mereka aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan seperti mudzakarah, munazharah, pengajian kitab kuning, serta penguatan nilai nasionalisme dan religiusitas. Kehidupan santri yang sederhana namun penuh semangat menjadi cerminan nyata dari nilai-nilai karakter yang dikembangkan di pesantren tersebut. Pesantren ini menjadi pusat transformasi karakter dan spiritualitas yang hidup dan relevan di tengah arus zaman.
Kata Kunci: Pemikiran Gus Baha, Pendidikan Karakter, Pondok Pesantren, Santri, Tasikmalaya
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain